Di Balik Toga Wisuda Ardhana Ada Dedikasi Ayah yang Dampingi Putra Rungu Wicara Kuliah Hingga Lulus

Kisah haru Ardhana, wisudawan rungu wicara Universitas Surakarta yang sukses meraih gelar sarjana berkat pendampingan sabar sang ayah.

Ilustrasi wisudawan merangkul sang ayah dengan latar cahaya hangat sebagai simbol perjuangan meraih gelar sarjana
Ilustrasi.

Ardhana Kusuma Anindyajati, 25 tahun, berhasil meraih gelar sarjana Ilmu Administrasi Negara dari Universitas Surakarta. Perjuangan Ardhana menyelesaikan kuliah tak lepas dari dukungan ayahnya.

Mahasiswa asal Boyolali itu mengikuti wisuda di De Tjolomadoe, Karanganyar, pada Kamis, 22 Oktober. Ia menuntaskan kuliah lima tahun setelah sempat mengambil cuti.

Ardhana merupakan penyandang disabilitas rungu wicara. Sepanjang masa kuliah, ayahnya, Anung Tedjowirawan, ikut mendampingi agar ia bisa mengikuti materi perkuliahan yang disampaikan para dosen.

Anung sendiri merupakan pensiunan dosen Fakultas Kebudayaan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Meski pernah mengajar di perguruan tinggi, Anung tetap harus sabar menyesuaikan cara menyampaikan materi kepada putranya selama perkuliahan berlangsung.

Sempat Kesulitan Mencari Kampus

Keinginan Ardhana kuliah tidak langsung berjalan mulus. Anung lebih dulu mendatangi sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta dan Solo untuk mencari kampus yang bersedia menerima putranya.

Ardhana semula lebih tertarik pada olahraga. Anung berharap putra bungsunya juga memiliki bekal pendidikan tinggi, sehingga ia terus mencari kampus yang membuka kesempatan belajar.

“Pada awalnya dia (Ardhana) itu senang olahraga, tapi saya ingin sekali dia punya gelar sarjana,” ujar Anung kepada wartawan seusai wisuda, dikutip dari Kumparan.

Pencarian itu akhirnya mengantarkan Ardhana ke Universitas Surakarta. Kampus tersebut menerimanya sebagai mahasiswa dan memberi ruang bagi Anung untuk mendampingi selama kuliah.

Di Unsa, Ardhana mengambil program S1 Ilmu Administrasi Negara. Anung ikut membantu menyampaikan kembali materi dosen agar putranya bisa mengikuti pembelajaran di ruang kelas.

Sang Ayah Jadi Pendamping Sekaligus Penghubung

Anung mendampingi Ardhana berdasarkan kesepakatan dengan pihak kampus. Ia berperan pasif, bukan mengajar atau menggantikan dosen yang bertanggung jawab menyampaikan materi kuliah.

“Kami sudah bikin perjanjian dengan Unsa, diperbolehkan mendampingi di dalam kuliah sifatnya pasif,” kata Anung. Ia hanya membantu meneruskan penjelasan dosen.

Pendampingan itu menuntut kesabaran karena materi kuliah kerap perlu dijelaskan berulang. Anung berusaha memastikan Ardhana memahami pembahasan yang disampaikan dosen di kelas.

“Karena itu saya dampingi selama perkuliahan dan lainnya. Selangkah demi selangkah akhirnya Ardhana bisa selesaikan kuliah (S1),” ujar Anung.

Kebutuhan tiap mahasiswa disabilitas bisa berbeda. Pengalaman Ardhana memperlihatkan pentingnya komunikasi keluarga dengan kampus agar bentuk pendampingan sesuai kebutuhan belajar mahasiswa.

Cuti Setahun karena Ayah Jatuh Sakit

Perjalanan Ardhana tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ia sempat menghentikan kuliah sementara selama satu tahun ketika Anung jatuh sakit dan tidak bisa menjalankan pendampingan seperti sebelumnya.

Ardhana mulai kuliah pada 2021 dan menyelesaikannya dalam lima tahun, termasuk masa cuti. “Sempat cuti 1 tahun karena saya sebagai pendamping Ardhana sakit,” kata Anung.

Setelah ayahnya pulih, Ardhana kembali kuliah hingga seluruh proses akademiknya selesai. Teman seangkatan dan para dosen juga memberi dukungan selama ia belajar di kampus.

Anung bersyukur karena lingkungan kampus menerima putranya dengan baik. Teman-teman Ardhana ikut memberi dukungan, sementara dosen memberi ruang bagi pendampingan di kelas.

Wisuda Menjadi Pengingat tentang Akses Pendidikan yang Setara

Bagi Anung, gelar sarjana putranya punya makna lebih luas dari pencapaian keluarga. Ia berharap pengalaman Ardhana mendorong kampus lain membuka kesempatan bagi mahasiswa disabilitas.

Anung menilai belum semua perguruan tinggi terbuka bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas. Ia mengapresiasi Unsa yang menerima Ardhana dan membantunya menuntaskan pendidikan tinggi.

“Unsa ini sangat menyadari bahwa anak disabilitas itu berhak mendapatkan pendidikan. Dan kami diperlakukan sangat baik dan terbuka,” ujar Anung.

Anung berharap Unsa terus berkembang dan makin terbuka bagi mahasiswa disabilitas, terutama di Jawa Tengah. Ia menyampaikan apresiasi setelah putranya berhasil menyelesaikan kuliah.

Penerimaan mahasiswa saja belum cukup. Kampus perlu berkomunikasi dengan keluarga, menata pendampingan, dan memberi ruang agar mahasiswa tetap aktif dalam proses belajar.

Keinginan Ardhana Setelah Lulus

Usai wisuda, Ardhana ingin kembali menekuni olahraga yang sejak awal ia sukai. Anung mengatakan putranya berharap bisa bergabung dengan National Paralympic Committee atau NPC.

Ardhana memiliki kemampuan di tiga cabang olahraga, yaitu bulu tangkis, catur, dan atletik. Kini, ia membawa bekal gelar sarjana sekaligus pengalaman akademik untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Bagi keluarga, pendidikan dan olahraga bisa berjalan beriringan. Ardhana sudah menuntaskan kuliah, sementara minat dan kemampuannya di bidang olahraga masih ingin ia kembangkan.