Khusnul Yakin berhasil meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pada Wisuda ke-55, Minggu, 1 November 2026. Ia juga menerima beasiswa untuk melanjutkan studi S2 Hukum.
Kelulusan itu melengkapi perjalanannya sebagai penyandang disabilitas, mantan pemain Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia, sekaligus pendiri Persatuan Sepak Bola Amputasi Surabaya (PERSAS).
Di balik toga wisuda, Khusnul menyimpan cerita tentang perjuangan yang tidak selalu mulus. Ia sempat masuk persiapan timnas untuk Piala Dunia, tetapi cedera lutut membuatnya batal berangkat.
Ia juga menjalani masa kuliah setelah kehilangan kedua orang tua. Dukungan keluarga dan kesempatan pendidikan membawanya ke panggung wisuda di Dyandra Convention Center, Surabaya.
Perjuangannya tidak berhenti pada gelar akademik. Sejak mendirikan PERSAS pada 14 Februari 2022, Khusnul berusaha membuka ruang bagi penyandang disabilitas yang ingin berlatih dan berkompetisi.
Dukungan Keluarga Membentuk Keberanian Sejak Kecil
Khusnul lahir dengan kondisi kaki kanan yang tumbuh tidak sempurna akibat infeksi toksoplasma sejak kecil. Kondisi fisik itu tidak membuat orang tuanya membatasi ruang belajar maupun pergaulannya.
Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, ia bersekolah di sekolah umum. Dukungan kedua orang tuanya membuat Khusnul leluasa menjalani kegiatan bersama teman sebaya.
Kisah masa sekolah itu membekas hingga dewasa. Khusnul meyakini penyandang disabilitas berhak mengenyam pendidikan, mengejar pekerjaan, dan menentukan cita-cita tanpa dibatasi prasangka orang lain.
Dukungan keluarga memberi ruang bagi Khusnul untuk mencoba banyak hal sejak kecil. Pengalaman bersekolah di sekolah umum juga menjadi bekal saat ia membangun kemandirian dan mengejar minat.
Pengalaman tersebut turut membentuk keberaniannya untuk memasuki lingkungan yang lebih luas. Ia tidak hanya berusaha menyelesaikan pendidikan, tetapi juga mencari kesempatan untuk mengembangkan kemampuan di bidang olahraga.
Kecintaan pada Sepak Bola Melahirkan PERSAS
Sepak bola telah menjadi bagian dari kehidupan Khusnul sejak kecil. Saat mengenal komunitas difabel, ia mulai mencari tahu apakah penyandang disabilitas juga punya ruang untuk bermain dan berolahraga.
Pencarian melalui media sosial membawanya mengenal komunitas sepak bola amputasi di Jakarta dan Jember. Pada 2021, ia bergabung dengan klub di Madura dan mengikuti turnamen di Jember.
Tim yang dibelanya berhasil menjuarai turnamen sepak bola amputasi tingkat Jawa dan Bali di Jember. Pengalaman itu memperkuat niat Khusnul membangun komunitas serupa di Surabaya.
Pada 14 Februari 2022, Khusnul bersama sejumlah rekan mendirikan Persatuan Sepak Bola Amputasi Surabaya atau PERSAS. Komunitas itu bermula dari enam anggota yang ingin berlatih dan bertanding.
“Awalnya anggota kami hanya enam orang,” kata Khusnul, dikutip dari laporan TribunJatim.
Ia ingin PERSAS menjadi ruang bagi pemain difabel untuk berlatih, berkompetisi, dan memperlihatkan kemampuan. Kehadiran komunitas itu diharapkan memberi kesempatan yang sebelumnya sulit mereka temukan.
Bagi Khusnul, PERSAS bukan sekadar tempat menjalani latihan. Klub itu memberi kesempatan kepada anggotanya untuk membangun kepercayaan diri, mengasah kemampuan, dan menjadi bagian dari tim.
Pada masa awal, dukungan pemerintah kota terhadap perkembangan klub belum memadai. Khusnul dan rekan-rekannya tetap menjaga latihan serta mencari kesempatan agar para pemain bisa mengikuti kompetisi.
Cedera Menghentikan Langkah Menuju Piala Dunia
Kerja keras di lapangan membawa Khusnul masuk dalam persiapan Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia pada 2022. Ia berpeluang tampil di Piala Dunia Sepak Bola Amputasi di Turki.
Namun, sekitar sepekan sebelum keberangkatan, ia mengalami cedera tendon pada lutut kiri saat mengikuti pemusatan latihan di Jakarta. Pemeriksaan medis juga menemukan masalah pengapuran pada lututnya.
“Lutut kaki kiri saya mengalami cedera tendon,” jelas Khusnul, dikutip dari laporan TribunJatim.com. Cedera itu terjadi sekitar sepekan sebelum tim dijadwalkan berangkat ke Turki.
Kondisi tersebut membuatnya tidak bisa melanjutkan persiapan menuju turnamen dunia. Setelah berlatih selama berbulan-bulan, ia harus menerima kenyataan bahwa kesempatan membela Indonesia tertunda.
Kekecewaan itu beriringan dengan persoalan keluarga. Sekitar tiga bulan setelah Piala Dunia 2022, ibunya terserang stroke dan meninggal tidak lama setelah Khusnul diterima kuliah di Umsura.
Kehilangan Orang Tua, Tetap Menuntaskan Kuliah
Kesempatan kuliah di Fakultas Hukum Umsura datang melalui beasiswa atlet. Kabar penerimaan itu sempat membahagiakan keluarga, tetapi Khusnul kemudian menjalani masa studi tanpa kedua orang tuanya.
Saat wisuda, ia mengenang dukungan Mama dan Papa yang menemaninya tumbuh dan bersekolah. Ia percaya keduanya akan bangga melihat pencapaiannya, meski tak bisa hadir secara langsung.
“Hari ini saya berdiri di sini tanpa kehadiran Mama dan Papa,” ujar Khusnul dalam pidato wisuda, dikutip dari Suara Merdeka. Ia yakin kedua orang tuanya akan bangga.
Di acara itu, Khusnul juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga yang terus mendukungnya. Istri, adik, dan tante menjadi orang-orang yang mendampingi setelah kedua orang tuanya tiada.
Kelulusan S1 itu mendapat apresiasi dari Umsura. Rektor Mundakir menyerahkan beasiswa magister Hukum kepada Khusnul dan rekannya, Fredo Dimas Saputra, dalam Wisuda ke-55.
Fredo juga atlet sepak bola amputasi Indonesia. Kehadirannya dalam wisuda menjadi pengingat bahwa olahraga dan pendidikan bisa berjalan berdampingan, meski jalannya tidak selalu mudah.
Pemberian beasiswa lanjutan kepada kedua atlet itu juga menjadi bentuk apresiasi kampus terhadap mahasiswa yang berprestasi. Kesempatan tersebut membuka jalan bagi Khusnul untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
PERSAS Ingin Membuka Jalan bagi Atlet Difabel
Setelah meraih gelar Sarjana Hukum, Khusnul ingin membesarkan PERSAS. Ia berharap komunitas itu berkembang dan memberi ruang bagi penyandang disabilitas yang ingin menjadi atlet atau pelatih.
“Saya ingin suatu hari bisa menjadi pelatih PERSAS,” tuturnya, dikutip dari TribunJatim. Khusnul ingin mendampingi rekan-rekannya, membantu mereka mengenali potensi, dan merancang masa depan.
Keinginan itu berangkat dari pengalamannya mencari tempat berlatih. Ia berharap pemain baru tidak menghadapi kesulitan serupa saat mencari komunitas, pelatih, dan kesempatan mengikuti pertandingan.
Khusnul meminta pemerintah dan berbagai pihak memperluas perhatian kepada penyandang disabilitas, terutama dalam akses pekerjaan. Ia berharap kesempatan kerja terbuka bagi mereka yang punya kemampuan.
“Jangan lupa untuk membuka jalan bagi orang lain,” pesannya. Ia berharap keberhasilan seseorang bisa ikut membuka kesempatan bagi orang lain.
Harapan itu menjadi bagian dari cita-citanya setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Ia ingin pengalaman yang dimilikinya bisa membantu penyandang disabilitas lain menemukan kesempatan untuk berkembang.
Ruang Setara Perlu Hadir Setelah Seremoni Wisuda
Perjalanan Khusnul menyentuh dua ruang yang kerap dibicarakan terpisah, yakni akses pendidikan dan kesempatan berolahraga. Ia kuliah melalui beasiswa atlet, lalu membangun klub bagi difabel lain.
Apresiasi di panggung wisuda perlu diikuti dukungan berkelanjutan. PERSAS butuh fasilitas latihan, akses transportasi, kesempatan bertanding, dan jalur pembinaan yang mudah dijangkau pemain.
Kampus juga perlu memastikan layanan inklusif tidak berhenti pada penerimaan mahasiswa. Fasilitas, proses belajar, dan dukungan akademik perlu memperhatikan kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas.
Kesempatan kerja menjadi tantangan berikutnya. Gelar sarjana bisa memperluas pilihan karier, tetapi proses rekrutmen dan lingkungan kerja juga harus memberi ruang yang adil bagi pekerja difabel.
Beasiswa S2 membuka babak baru bagi Khusnul, sementara komitmennya kepada PERSAS terus berjalan. Ia ingin pencapaian pribadi turut membuka peluang bagi penyandang disabilitas lainnya.
Khusnul kini memiliki dua perjalanan yang ingin terus diperjuangkan, yakni melanjutkan pendidikan dan membesarkan komunitas sepak bola amputasi di Surabaya. Keduanya menjadi ruang untuk mengembangkan potensi sekaligus membantu sesama.








