Siswa SD Sapen Yogyakarta Ciptakan Board Game BECIK untuk Edukasi Anti Perundungan

Siswa SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta menciptakan Board Game Becik untuk edukasi anti perundungan. Inovasi ini sukses meraih medali emas di IYIA 2026.

Maket papan permainan Board Game Becik karya siswa SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta
Board Game BECIK.

Lima siswa SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta berhasil menciptakan permainan papan bernama BECIK untuk mengedukasi anak tentang perundungan. Karya ini meraih medali emas dalam ajang International Young Inventors Award (IYIA) 2026.

Selain medali emas, tim tersebut juga memperoleh penghargaan Best Prize for The Most Creative Idea. BECIK akan kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan Jelajah Semesta Boardgametopia yang dijadwalkan berlangsung pada 5 Desember 2026.

Prestasi itu berangkat dari kegelisahan terhadap perundungan di sekitar anak. Para siswa merancang media belajar yang memberi ruang bagi pemain untuk mengenali masalah dan menentukan tindakan.

Lima Siswa Sapen Raih Dua Penghargaan di IYIA 2026

Tim BECIK terdiri atas Arkatama Shifan Winatra, Lintang Sari Wardana, Nabil Alfarizqi, Elmyra Shanum Prasia, dan Cakra Kalani Al Ghifari. Mereka menjadi satu dari tiga tim sekolah yang mengikuti ajang tersebut.

Kompetisi International Young Inventors Award 2026 berlangsung di SMESCO Jakarta pada 3 sampai 6 Oktober. BECIK berhasil menang dalam kategori Social Science, Environmental Protection, and Agriculture.

Penghargaan Best Prize for The Most Creative Idea melengkapi medali emas. Apresiasi itu diberikan atas gagasan permainan yang menyampaikan pesan pencegahan perundungan dengan cara dekat bagi anak.

Kepala SD Muhammadiyah Sapen, Agung Rahmanto, memuji kemampuan murid melihat persoalan sekitar. Pernyataannya dimuat Muhammadiyah.or.id pada 6 Oktober 2026.

“Anak usia sekolah dasar mampu menghadirkan solusi atas permasalahan di sekitar mereka,” ujar Agung, dikutip dari pemberitaan Muhammadiyah.or.id pada 6 Oktober 2026.

Empathy Card dan Action Card Mengajak Anak Berlatih Empati

Di dalam BECIK, pemain berhadapan dengan beragam situasi perundungan melalui Empathy Card dan Action Card. Kartu itu membawa pemain pada pilihan sikap, bukan sekadar menghafal definisi perundungan.

Ketika pemain memberi respons yang mencerminkan kepedulian, mereka memperoleh Love Coin atau Koin Cinta. Penghargaan ini mendorong anak memilih tindakan yang membantu atau melindungi temannya.

Permainan itu juga memuat tokoh Pandawa Lima dan nilai budaya Jawa. Unsur lokal menjadi bagian cerita yang dekat dengan keseharian anak, sekaligus membuka percakapan tentang perilaku baik.

Tim mengembangkan permainan itu selama sekitar tiga bulan. Lintang bercerita, mereka kerap berkumpul sepulang sekolah untuk menyusun cerita dan menguji cara menyampaikan pesan kepada teman sebaya.

“Kami punya ide untuk mengedukasi teman-teman akan bahaya bila membiarkan bullying di sekitar kita, kita harus lawan,” kata Lintang, seperti dikutip Intensplus dalam pemberitaan pada 26 Oktober 2026.

Tim juga menyiapkan BECIK dalam versi bahasa Inggris. Elmyra Shanum Prasia mengalihbahasakan naskah dari cerita Indonesia, sementara anggota lain mengembangkan unsur kreatif permainan.

Budaya Jawa Menjadi Jembatan untuk Membahas Perundungan

Identitas lokal hadir lewat ilustrasi anak berpakaian adat Jawa dan tokoh Pandawa Lima. Pesan empati masuk melalui karakter dan cerita, bukan hanya nasihat satu arah.

Event Designer Boardgametopia, Muhammad Abdurrahman, menjelaskan bahwa pendekatan budaya juga digunakan untuk mendorong anak yang melakukan perundungan menyadari dampak perbuatannya dan meminta maaf.

Penjelasan Abdurrahman tentang penggunaan unsur budaya dalam BECIK dimuat Radar Jogja pada 28 Oktober 2026. Permainan ini dirancang agar pesan antiperundungan terasa dekat dengan dunia anak.

Mengapa Edukasi Perundungan Perlu Dimulai Sejak SD

Perundungan bukan persoalan yang hanya muncul di jenjang remaja. Data BPS yang dikutip Muhammadiyah.or.id mencatat 26,8 persen siswa kelas 5 SD mengalami perundungan pada 2021.

Survei PISA 2018 dari OECD juga mencatat 41,1 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan. Rata-rata negara OECD saat itu berada di sekitar 23 persen.

Kedua angka itu berasal dari tahun pengumpulan data berbeda, bukan gambaran kondisi terkini. Namun, catatan tersebut memperlihatkan bahwa perundungan telah menjangkau anak usia sekolah.

Anak SD sedang belajar membaca perasaan orang lain, mengelola konflik, dan membangun pertemanan. Latihan mengenali perilaku yang menyakiti teman bisa dimulai lewat cerita dan permainan.

Bukan Sekadar Permainan, BECIK Bisa Menjadi Pemantik Diskusi Kelas

Nilai tambah BECIK ada pada kesempatan bagi anak untuk mencoba memilih respons dalam situasi simulasi. Guru atau orang tua bisa membahas alasan di balik pilihan pemain setelah permainan selesai.

Pendamping juga bisa bertanya siapa yang dirugikan, bantuan apa yang dibutuhkan korban, dan kepada siapa anak perlu melapor. Pertanyaan sederhana ini menghubungkan permainan dengan tindakan nyata.

Permainan tidak menggantikan tanggung jawab sekolah untuk melindungi korban, menerima laporan, dan menindaklanjuti perundungan. BECIK lebih tepat menjadi alat pembuka percakapan dan latihan empati.

Komisioner KPAI Diyah Puspitarini mengapresiasi media belajar yang melibatkan anak. Menurut dia, permainan bisa menjadi pilihan selain penyampaian materi satu arah.

“BECIK adalah inovasi yang menyenangkan dan kreatif,” ujar Diyah, dikutip dari pemberitaan Muhammadiyah.or.id setelah Tim BECIK bertemu jajaran KPAI di Jakarta pada Oktober 2026.

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Didik Suhardi, menyoroti manfaat interaksi saat bermain. Aktivitas itu membuka ruang untuk melatih komunikasi dan menjaga hubungan antarteman.

“Pendekatan bermain seperti BECIK membuat anak terlibat aktif dalam proses belajar,” kata Didik, sebagaimana dikutip Muhammadiyah.or.id dalam laporan audiensi Tim BECIK dengan pemangku kepentingan pendidikan.

BECIK Akan Diperkenalkan dalam Jelajah Semesta Boardgametopia 2026

BECIK kembali diperkenalkan lewat Jelajah Semesta Boardgametopia 2026. Agenda utama dijadwalkan Sabtu, 5 Desember 2026 di Gamestory Board Game & Cafe, Minomartani, Sleman.

Acara yang digagas Yayasan Koneksi Hati Indonesia bersama Gamestory itu mengusung tema petualangan antarplanet. Peserta diajak menjelajahi area permainan tematik, bukan sekadar berpindah meja.

Panitia merencanakan peluncuran BECIK dan Battle Shape, karya Boardgametopia. Acara ini disiapkan sebagai ruang pertemuan keluarga, sekolah, komunitas, dan pelaku industri permainan papan.

Founder Yayasan Koneksi Hati Indonesia, Dwi Retno Utami, ingin acara itu mempererat interaksi keluarga dan menawarkan kegiatan di luar gawai. Rencana tersebut dilaporkan KRJogja pada 27 Oktober.

Konsep tematik ini pernah diuji pada 6 Desember 2025. Saat itu, 300 peserta dari 125 keluarga menjelajahi enam area permainan dalam kegiatan Boardgametopia di Yogyakarta.

Panitia juga menyiapkan hiburan keluarga, termasuk komedi tunggal dengan materi ramah anak. Informasi terbaru acara akan disampaikan melalui akun Instagram @boardgametopia.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara ingin mempertemukan keluarga, komunitas, sekolah, dan pengembang permainan lokal. Boardgametopia juga menjadi ruang untuk memperkenalkan permainan papan sebagai pilihan kegiatan bersama.

Kerja Sama Dibuka agar Manfaat BECIK Menjangkau Lebih Banyak Anak

Tim BECIK memperkenalkan karyanya kepada KPAI dan unsur pendidikan. Mereka juga bekerja sama dengan Majelis Dikdasmen PNF PDM Kota Yogyakarta, Hope Institute, serta Universitas Ahmad Dahlan.

Perluasan pemanfaatan bergantung pada kesiapan sekolah, pendamping, dan perangkat permainan. Uji coba di kelas bisa menjadi langkah awal untuk menilai kemudahan aturan BECIK bagi anak.

Tim berharap BECIK digunakan di lebih banyak sekolah dasar. Penghargaan IYIA mengakui gagasan mereka, sedangkan pemakaian di ruang belajar akan menguji manfaat permainan secara langsung.

Karya lima siswa ini memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap persoalan sosial bisa tumbuh melalui lingkungan sekolah. BECIK juga membuka peluang bagi anak untuk ikut menciptakan solusi melalui kreativitas mereka.