Kemdiktisaintek Luncurkan Program SATRIA, Dorong Inovasi Riset Perguruan Tinggi

Kemdiktisaintek bersama LPDP meluncurkan Program SATRIA 2026 dengan alokasi dana hingga Rp200 juta per proposal untuk mendorong inovasi riset dosen.

Ilustrasi Program Saintek Riset Pembelajaran Transformatif SATRIA 2026 Kemdiktisaintek.
Program SATRIA 2026 Kemdiktisaintek.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi meluncurkan Program Saintek Riset Pembelajaran Transformatif (SATRIA) 2026. Program ini membuka kesempatan bagi dosen untuk memperoleh pendanaan riset hingga Rp200 juta per proposal, dengan total anggaran mencapai Rp7 miliar.

Program yang bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tersebut ditujukan untuk mendorong lahirnya metode pembelajaran inovatif berbasis penelitian. Pelaksanaannya dijadwalkan berlangsung mulai Desember 2026 hingga September 2027.

Peluncuran program berlangsung secara daring pada Selasa, 3 November 2026. Kegiatan tersebut diikuti perwakilan perguruan tinggi dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi dari berbagai wilayah Indonesia.

Mengenal Program SATRIA dan Tujuan Pengembangannya

Program Saintek Riset Pembelajaran Transformatif atau SATRIA berada di bawah Direktorat Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek.

Pelaksanaannya menggandeng Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan. Kerja sama ini menghubungkan peningkatan mutu pembelajaran dengan dukungan pendanaan riset.

Pengumuman LLDIKTI Wilayah II pada 2 November 2026 menyebut SATRIA diarahkan untuk memperkuat kemampuan dosen dalam merancang inovasi pembelajaran yang adaptif dan berbasis bukti empiris.

Program ini tidak sekadar membiayai perangkat atau kelas daring. Fokusnya adalah riset untuk menguji apakah rancangan belajar di sebuah mata kuliah membantu mahasiswa memahami materi.

Ardi Findyartini, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kemdiktisaintek, menyebut perubahan pendidikan tinggi perlu terasa dalam pengalaman mahasiswa, bukan sekadar kurikulum.

Mahasiswa diharapkan berlatih berpikir kritis, menilai kembali pemahamannya, membentuk sudut pandang baru, lalu memakai kompetensi yang dipelajari untuk menjawab persoalan di sekitar.

Pendekatan itu sejalan dengan kebijakan Kampus Berdampak. Perguruan tinggi didorong menghasilkan pengetahuan dan solusi yang berguna bagi masyarakat, selain mendidik dan meluluskan mahasiswa.

Menurut keterangan Ardi yang diberitakan Humas UPN Veteran Jakarta, SATRIA memiliki tiga sasaran, yaitu memperkuat kemampuan dosen, menghasilkan model pembelajaran lewat riset, dan menyebarkan praktik baik.

Dana Riset SATRIA 2026 Capai Rp7 Miliar, Ini Skema Pendanaannya

Dukungan SATRIA mencapai Rp7 miliar untuk program yang ditargetkan berjalan selama dua tahun. Setiap proposal berpeluang memperoleh anggaran paling banyak Rp200 juta, termasuk pajak.

Besaran dana yang disetujui tidak otomatis sama untuk semua pengusul. Penilaian akan mempertimbangkan kebutuhan kegiatan, kewajaran rincian biaya, serta mutu proposal yang diajukan dosen.

Penyaluran dana direncanakan dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar 70 persen, sedangkan 30 persen sisanya diberikan pada tahap kedua sesuai mekanisme pencairan.

Skema tersebut membuat rencana anggaran perlu terhubung dengan tahapan kerja riset. Pengusul sebaiknya menjelaskan kebutuhan tiap pos biaya dan target pada setiap tahap.

Besaran maksimal Rp200 juta juga perlu menjadi perhatian dosen ketika merancang penelitian. Proposal yang realistis dan memiliki hubungan jelas antara kebutuhan biaya dengan target penelitian akan lebih mudah dipertanggungjawabkan.

Siapa yang Bisa Mengikuti Program SATRIA 2026?

Program ini terbuka bagi dosen perguruan tinggi di lingkungan Kemdiktisaintek. Syarat rinci, format dokumen, dan ketentuan tim pengusul perlu merujuk pada petunjuk teknis resmi.

Pengumuman peluncuran meminta pimpinan kampus dan unit terkait menyebarkan informasi pendanaan, sekaligus mendorong dosen menyiapkan usulan model pembelajaran transformatif.

Surat Ditjen Sains dan Teknologi Nomor 2903/DST/D.D3/DT.00.00/2026 tertanggal 31 Oktober 2026 menjadi dasar sosialisasi SATRIA bagi perguruan tinggi negeri dan swasta.

Dosen dapat memantau informasi program dan mekanisme pengajuan melalui laman Direktorat Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif, di sspt.kemdiktisaintek.go.id.

Pengumuman LLDIKTI yang tersedia belum mencantumkan tanggal pembukaan dan penutupan proposal. Calon pengusul sebaiknya memeriksa portal resmi secara berkala untuk melihat pembaruan.

Jadwal Pelaksanaan dan Tahapan Program SATRIA

Riset dijadwalkan pada Desember 2026 sampai September 2027. Sebelumnya, penyelenggara akan menyeleksi proposal, menetapkan penerima dana, menandatangani kontrak, dan menggelar bimbingan teknis.

Selama penelitian berjalan, Kemdiktisaintek menyiapkan pemantauan, pendampingan, dan evaluasi berkala. Tahap ini diperlukan untuk melihat kemajuan kegiatan serta penerapan hasil riset.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan penelitian tidak berhenti setelah proposal memperoleh persetujuan pendanaan. Dosen tetap perlu menjalankan riset dan melaporkan perkembangan sesuai ketentuan.

Karena jadwal penerimaan proposal belum dijelaskan secara terperinci dalam pengumuman awal, dosen yang berminat sebaiknya menyiapkan rancangan penelitian sejak sekarang.

Luaran Riset yang Harus Dihasilkan Dosen

Luaran program mencakup model pembelajaran yang sudah diuji, artikel jurnal bereputasi, buku referensi ber ISBN, dan perangkat pembelajaran yang bisa digunakan dosen.

Video implementasi dan hak kekayaan intelektual juga masuk dalam daftar luaran. Dokumentasi itu dapat membantu kampus lain mempelajari dan mengadaptasi model pembelajaran yang telah diuji.

Kemdiktisaintek turut mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) serta Learning Management System (LMS). Teknologi tetap harus menjawab kebutuhan belajar mahasiswa.

Teknologi bisa membantu dosen memberi umpan balik, menyesuaikan materi, atau memantau kemajuan mahasiswa. Namun, riset perlu mengukur dampaknya terhadap pemahaman dan keterampilan.

Pemanfaatan AI, misalnya, bisa dikembangkan untuk membantu mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing masing. Hasil penerapannya tetap perlu diuji melalui proses penelitian.